24.2 C
Bandar Lampung
19 June, 2021
Agama Pendidikan

Kemenag Siap Kerahkan 45 ribu Penyuluh untuk Tangkal Radikalisme

Menteri Agama Jenderal (Purn) Fachrul Razi ditugasi oleh Presiden Jokowi untuk menangkal radikalisme.

Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid, yang dilantik hari ini (25/10/2019) mengatakan pencegahan berkembangnya paham radikal bisa dilakukan dari hulu, yakni dari kurikulum hingga pengajar.

“Nah orang belajar kan ada kurikulumnya, apalagi di sekolah formal ya. Jadi, kurikulumnya yang harus dilihat. Kemudian pengajarnya, kurikulumnya bagus tapi pengajarnya terpapar radikal ya dia pasti mengarahkannya anak didik ke paham radikal,” ujar Zainut di kantor Kemenag, Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta Pusat, Jumat (25/10/2019).

Zainut menyebut paham radikal dapat menyebar karena dua aspek, yakni aspek keagamaan dan aspek ekonomi. Jika terkait aspek keagamaan, maka terkait transfer ilmu yang diterima siswa di sekolah.

“Kalau dari sumber ekonomi, juga harus dipahami bagaimana orang-orang itu dapat pekerjaan yang baik, tidak frustrasi karena dia banyak beban, dia pekerjaannya serampangan, kondisi sosialnya, saya kira ini harus dilihat secara utuh,” lanjutnya.

Saat ini, kata Zainut, stigma masyarakat cenderung mengarahkan radikalisme pada satu agama tertentu. Padahal, menurut Zainut, radikalisme dapat melekat ke semua agama.

“Ada stigmatisasi, kesan bahwa yang radikal itu hanya dari kelompok A gitu, atau hanya dialamatkan kepada Islam. Itu tidak benar, jika radikalisme itu sumbernya semata-mata masalah agama; paham radikal itu bisa melekat ke semua agama. Jadi harus hati-hati di dalam mengurai persoalan ini,” ujar Zainut.

Menurut Zainut, radikalisme tergolong dalam dua konteks, yakni, keagamaan dan kebangsaan. Ia mencontohkan, paham yang tidak menerima dan menggolongkan ‘kafir’ kepada kelompok lain yang ajarannya berbeda maka hal itu termasuk radikalisme dari aspek keagamaan.

“Kemudian, dari aspek kebangsaan misalkan ketika paham itu menolak nilai-nilai kebangsaan kita, nilai-nilai kesepakatan nasional kita misalnya. Ya, apakah misalkan tentang dasar negara Pancasila, menolak UUD 45, menolak NKRI misalnya. Menurut saya paham yang seperti ini masuk dalam kategori radikal dalam konteks paham kebangsaan,” ujarnya.

Kedua aspek radikalisme tersebut dinilai dapat mempengaruhi harmoni kehidupan antarumat beragama dan memecah belah bangsa.

“Muaranya tadi mengganggu harmoni kehidupan umat beragama, kedua, mengancam eksistensi negara kita. Karena mereka tujuannya ingin mengganti pancasila,” ujar Zainut.

Zainut menjelaskan bahwa kementerian Agama punya ribuan penyuluh. Para penyuluh itu ditugasi untuk menyebarkan ajaran agama yang penuh kasih dan cinta sehingga radikalisme tidak berkembang.

“Kementerian Agama ini punya perangkat yang besar sekali, kita punya penyuluh (berjumlah) 45 ribu, ini kan juga merupakan modal yang saya kira nanti bisa kita arahkan untuk menjadi penyebar nilai-nilai dakwah yang rahman, penuh cinta dan kasih yang toleran gitu. Setiap penyuluh dia punya binaan-binaan di majelis-majelis taklim, saya kira itu jadi upaya kami bagaimana tadi, penanganan masalah paham radikal,” ujar Zainut.

Sumber: Detik.com

Berita Terkait

Nasaruddin Umar: Saat ini Terjadi Deindonesianisasi Pemahaman Keagamaan

AspirasiLampung

LTMPT Resmi Luncurkan SNMPTN dan UTBK-SBMPTN 2021, Simak Jadwalnya

AspirasiLampung

Institut Informatika dan Bisnis – IIB Darmajaya Segera Miliki Tiga Guru Besar

AspirasiLampung