Lampung Tengah Tokoh

Gus Damas, Sosok Santri Kampung Yang Menggeluti Bidang Bahasa Inggris dan IT

Bila baru mengenalnya, sosok ini terkesan kalem dan tidak banyak bicara. Tetapi sekali bertegur sapa, maka diskusi akan mengalir dengan derasnya. Ia sangat senang bercengkerama, berbagi ilmu dan memberikan pandangannya terhadap kondisi sosial, ekonomi maupun politik yang sedang trending.

Itulah Gus Damas, panggilan akrab dari sosok yang bernama lengkap Mashuri Damas. Pria kelahiran Sidomulyo 1968 ini sebenarnya bukan orang asing bagi warga Lampung Tengah karena ia adalah cucu KH Ali Hasyim, seorang kiai khos yang sangat dihormati, mursyid Thoriqoh Kholidiyah Naqsabandiyah dan pendiri pondok pesantren Baitul Mustaqim, Sidomulyo, Punggur Lampung Tengah.

Gus Damas lahir dan menghabiskan masa kecilnya bersama keluarga dalam lingkungan yang dekat dengan dunia pendidikan agama dan lingkungan pesantren di Sidorahayu. Tetapi saat usianya menginjak 12 tahun, usai menamatkan jenjang Madrasah Ibtidaiyah di kampungnya, ia memilih melanjutkan sekolahnya ke MTsN Kota Metro dan mondok di Pesantren Mambaul Huda dibawah asuhan Kiai Pardi Batanghari. Jarak 6 km dari pesantren Mambaul Huda ke sekolahnya di MTsN Metro ia tempuh dengan bersepeda.

Dan sejak itulah, ia tinggal dan tumbuh besar di perantauan, jauh dari kampung halamannya. Ia merasa perlu untuk keluar dari zona nyaman di kampung dan betah merantau agar ia bisa merasakan hidup secara mandiri jauh dari orangtua untuk menempa mentalnya sekaligus meluaskan wawasan dan jejaring pergaulannya.

Setelah menyelesaikan studinya di MTsN Metro, atas saran seorang ustadz, ia kemudian mondok ke Pesantren Darussalam Tegineneng Lampung Selatan. Pondok Pesantren Darussalam Tegineneng ini merupakan Pondok Modern yang kurikulum pelejarannya berafiliasi ke Pondok Modern Gontor Ponorogo. Disini Gus Damas masuk di jenjang Aliyah tetapi harus duduk di kelas eksperimen terlebih dahulu. Ustadz tersebut menyarankan Gus Damas untuk mondok di Darussalam karena ia melihat potensi atau kecerdasan yang dimiliki Gus Damas yang menurutnya harus mendapatkan tempat belajar yang dapat memberikan tantangan.

Menimba ilmu di pesantren Darussalam memberikan perspektif berbeda kepada Gus Damas yang kemudian memperkaya sudut pandangnya dalam melihat konstelasi paradigma a la pesantren salafiyah dan pesantren modern. Bila di pesantren salafiyah, santri ditekankan untuk mengkaji Islam secara rinci dan detail melalui kitab-kitab kuning dan alat-alat penungjangnya, di pesantren modern, metode belajar dan kitab-kitabnya berbeda. Di pesantren salafiyah, santri mengaji dengan cara sorogan atau lalaran, di pesantren modern tidak dikenal cara seperti ini, tetapi santri belajar di kelas dan dibimbing oleh seorang ustadz, sebagaimna yang diterapkan di sekolah umum pada umumnya.

Perbedaan yang mencolok antara pesantren salafiyah dan pesantren modern adalah kedisiplinan penggunaan bahasa asing. Santri di pesantren modern dituntut untuk berbahasa Arab atau Inggris dalam berkomunikasi sehari-hari. Ada sanksi berat bila santri melanggarnya. Pembiasaan ini menjadikan santri pondok pesantren modern fasih dalam berbahasa Arab atau berbahasa Inggris secara verbal.

Sebaliknya, santri di pesantren salafiyah pada umumnya lebih menguasai ilmu alat atau tata Bahasa Arab. Hal ini membuat mereka sangat fasih dalam membaca dan menterjemahkan kitab-kitab kuning. Selain itu, santri pesantren salafiyah sangat diajarkan adab atau akhlak untuk takdim, terutama kepada ustadz dan kiai.

Hasil gemblengan dua metode pendidikan pesantren yang berbeda tersebut membuat Gus Damas memahami dua metode pembelajaran pesantren yang kemudian membuatnya lebih terbuka untuk menerima perbedaan pandangan yang sering muncul diantara santri salafiyah dan santri modern. Hal ini jugalah yang menjadikannya sosok yang moderat dan bisa menerima atau mudah diterima di jejaring pergaulannya di tengah masyarakat

Karena prestasi akademiknya disini cukup bagus dan selalu masuk di 3 besar, Gus Damas masuk nominasi untuk mendapatkan beasiswa studi ke Timur Tengah bersama beberapa santri Darussalam. Tetapi kesempatan ini tidak ia ambil dengan alasan ia lebih suka belajar dengan ustadz dan kiai-kiai dalam negeri. Saat itu, di tahun 1980 an akhir, ia sudah memiliki pandangan bahwa alumni pendidikan luar negeri, terutama dari Timur Tengah, cenderung berubah dalam membawakan wajah Islam. Pandangan ini terbentuk dibenaknya mungkin karena dari kecil ia dididik di lingkungan nahdliyin dan pesantren salafiyah.

Untuk bisa melanjutkan studi ke bangku kuliah, maka Gus Damas memutuskan untuk ikut ujian nasional dengan menumpang menjadi siswa kelas 3 di Madrasah Aliyah Ma’arif Metro. Dengan berbekal ijazah Aliyah ini, ia kemudian mendaftar diri menjadi mahasiswa STIBA Yunisla Bandar Lampung dan mengambil jurusan Bahasa Inggris.

Selama menempuh bangku kuliah di STIBA, Gus Damas cukup menonjol dalam berbagai kegiatan, baik kegiatan akademis maupun non-akademis. Di bidang akademis, ia selalu tercatat masuk di ranking 3 besar, di bidang non-akademis, ia menjadi ketua Senat Mahasiswa, ketua BEM dan anggota Resimen Mahasiswa (Menwa). Sebenarnya, kuliah merupakan barang mewah bagi Gus Damas; hal ini karena ia harus mencari bekal sendiri untuk dapat membiayai kuliah dan hidup di kota Bandar Lampung.

Ia pun melakukan pekerjaan apa saja yang ia mampu, mulai dari menjadi pengamen di bis kota atau pasar, menjadi penjual gorengan bahkan menjadi tukang cuci pada satu keluarga. Semua ia lakukan dengan ikhlas dan semangat demi bisa menyelesaikan bangku kuliahnya. Kesulitan-kesulitan hidup ini membuatnya memiliki rasa percaya diri tinggi, tidak mudah menyerah dan selalu optimis. Ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat namun tetap bijak dan egaliter. Kepribadian ini terus melekat dalam keseharian Gus Damas hingga sekarang.

Ia mengawali karir profesionalnya dengan menjadi seorang guru Bahasa Inggris di LIA (Lembaga Indonesia Amerika) cabang Bandar Lampung, di tahun 1990. Dua tahun mengajar disini, ia kemudia pindah ke LIA Yogyakarta dan menjalani tugasnya di kota gudeg ini selama 4 tahun, hingga akhirnya pada tahun 1996 ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta, setelah ia menikah. Ia pun memulai petualangan hidupnya di kota Jakarta sejak saat itu hingga tahun 2020, dimana ia kemudian memutuskan untuk hijrah ke Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Kepindahannya dari Jakarta ke Palembang pada dasarnya karena situasi Jakarta yang tidak kondusif lagi akibat pandemi Covid-19 yang melumpuhkan hampir semua kegiatan. Usaha-usaha yang ia rintis selama di Jakarta juga harus tutup semua, keadaan ekonominya juga semakin sulit. Kantor ESC (English Solution Center), sebuah pusat kursus IELTS, TOEFL, TOEIC, PTE Academic yang ia kelola sejak tahun 2000 juga tutup, tidak bisa beroperasi lagi.

Ya, saat Jakarta memberlakukan PSBB pada bulan April-Mei 2020, Gus Damas kemudian terbang ke Palembang. Di kota ini, ia mengawali usaha survivalnya dengan membangun InfoSriwijaya.com, sebuah portal media online, dengan maksud untuk membuka akses mencari teman dan agar lebih cepat dikenal orang. Dua bulan ia tinggal di Kota Palembang, Gus Damas yang pada saat hijrah ke kota ini tidak kenal siapa-siapa, bahkan ia belum pernah menginjakkan kakinya di kota ini sebelumnya, mulai mendapatkan teman. Semakin hari temannya semakin banyak dan terus bertambah, mereka berasal dari berbagai lingkaran pergaulan; mulai dari kalangan media, pengacara, ormas nasionalis, ormas agama, partai politik, hingga rakyat biasa. Ia bisa masuk dan diterima di semua kalangan.

Setelah kurang lebih 2 tahun tinggal di Kota Palembang, tak terasa ia sudah larut dengan kehidupan kota ini, bahkan merambah hingga ke seluruh wilayah provinsi Sumatera Selatan. Ia terlibat aktif di dalam banyak kegiatan masyarakat dan dipercaya untuk ikut menjadi pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Sumsel, Persatuan Guru NU (PERGUNU) Sumsel, Pagar Nusa Sumsel, PWNU Sumsel, PCNU Kota Palembang, Penggiat Kader Bela Negara (PKBN) DPW Sumsel, Badan Pengusaha Pemuda Pancasila (BP3) Sumsel, dan Sriwijaya Shooting Club (SSC). Gus Damas juga aktif dalam harakah pengkaderan nahdliyin dan menjadi Kordinator Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) untuk kota Palembang dan wilayah sekitarnya

Di luar kesibukannya sebagai aktifis organisasi, Gus Damas masih sempat menjadwalkan waktunya sebagai trainer di Santripreneurship Camp, sebuah program pelatihan pemberdayaan kewirausahaan untuk kalangan santri dan pesantren. Ia juga menjadi trainer nasional dibawah Kementrian Perdagangan dan Pusat Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI) untuk memberikan pelatihan kepada UKM-UKM Indonesia yang berorientasi ekspor. Berpartner dengan empat orang sahabatnya yang bermukim di Jakarta, Bandung dan Semarang, Gus Damas juga mengelola Export5.0, sebuah platform digital yang dikembangkan untuk mereka yang ingin belajar tentang ekspor secara online.

Kegiatan regulernya adalah menjadi pengelola English Solution Center (ESC), sebuah lembaga konsultan dan pelatihan Bahasa Inggris untuk perusahaan-perusahaan dan untuk mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk test TOEFL, IELTS, TOEIC atau PTE Academic sebagai syarat melanjutkan studi ke luar negeri. Ia juga menggeluti bidang IT sebagai web designer dan Digital Marketing untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pembuatan website atau layanan promosi digital dan mengelola ayolulus.com, sebuah portal bimbel untuk CPNS dan Sekolah Kedinasan.

Aktifitas Gus Damas di Sumatera Selatan rupanya menarik perhatian tokoh-tokoh dan teman-teman di kampungnya yang kemudian meminta Gus Damas untuk juga dapat ikut andil memberikan kontribusinya guna membangun kampung halamannya. Memenuhi ajakan para tokoh tersebut, maka Gus Damas menawarkan sebuah konsep pemberdayaan yang saat ini sedang ia garap bersama-sama dengan masyarakat di kampungnya, yaitu Kampung Jannah. Kampung Jannah merupakan satu proyek pemberdayaan masyarakat kampung yang integratif yang di dalamnya ada beberapa program yang dikembangkan secara simultan dan synchronized. Gus Damas selanjutnya menggalang semua stakeholder di kampungnya untuk terlibat dan berkolaborasi dengan misi utama menjadikan dusun Sidorahayu, dusun tempat kelahirannya, menjadi sebuah destinasi wisata reliji dan edukasi.

Ia memilih destinasi wisata sebagai konsep untuk memberdayakan dusun Sidorahayu karena ia yakin akan muncul efek berantai yang bisa dikembangkan yang kemudian dikelompokkan menjadi klaster-klaster untuk memudahkan pengembangannya; ada klaster Kampung Santri yang di dalam mencakup pondok pesantren Baitul Mustaqim, Pondok Pesantren Kiai Ali Hasyim dan sekolahan; ada klaster Kampung UMKM yang di dalamnya ada pemberdayaan sentra industri tahu tempe, sentra produsen snack dan camilan, dan kuliner; ada klaster Kampung Inggris yang di dalamnya ada tempat kursus Bahasa Inggris untuk masyarakat sekitar dan masyarakat umum dari luar daerah; dan klaster Kampung Wisata yang menyatukan semua klaster tersebut menjadi satu kesatuan destinasi wisata.

“Sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”, pepatah ini menginspirasi Gus Damas ketika menawarkan ide Kampung Jannah untuk memberdayakan masyarakat di kampungnya. Ia melihat potensi yang ada di kampungnya sangat luar biasa. Disini ada makam Almaghfurlah KH Ali Hasyim guru mursyid Thoriqoh Kholidiyah Naqsabandiyah, Pondok Pesantren Baitul Mustaqim, Sekolah Ma’arif, Pondok Pesantren Kiai Ali Hasyim, sentra-sentran UMKM, suasana kampung santri, pemandangan alam desa dan masyarakat yang agraris, relijius dan terdidik menjadi modal bagi Gus Damas untuk menjadi dusun Sidorahayu sebagai Kampung Jannah, destinasi wisata reliji dan edukasi.

Tentu bukan tugas ringan untuk mewujukan gagasan tersebut, butuh kerja keras, kerja cerdas dan komitmen dari semua stakeholder. Statusnya sebagai ahli dzuriyah atau cucu KH Ali Hasyim mendorong Gus Damas untuk meneruskan tugas besar yang telah dirintis oleh sang kakek melalui pengabdiannya menggarap Kampung Jannah. Ia sangat paham ide besarnya tidak bisa terwujud secara instant, akan banyak tantangan yang harus ia hadapi. Tetapi ia yakin dan optimis, semua akan menggelinding seperti sebuah batu dimana lumut kemudian akan menyelimutinya dan membuatnya kokoh di tengah aliran sungai yang deras. Di tengah arus deras perubahan gaya hidup, ambisi dan mindset kehidupan manusia modern, ia yakin dirinya juga tetap mampu tegak kokoh dengan prinsip dan nilai yang ia pegang teguh sebagai santri dan generasi penerus KH Ali Hasyim.

Kesibukannya yang luar biasa dalam menjalani tugas dan rutinitasnya sebagai seorang aktifis organisasi dan sebagai seorang profesional tak membuatnya lupa bahwa ia juga harus tetap bersilaturahmi ke rumah teman-temannya untuk sharing tentang apa saja, terutama tentang nostalgia di saat usia anak-anak dan remaja sambil ngopi bareng.

Biodata

Nama: MASHURI DAMAS
Tempat/Tanggal Lahir: Sidomulyo, 1968

Pekerjaan:

  1. Pusat Pendidikan Ekspor Indonesia (PPEI), Kementrian Perdagangan Jakarta, Pemateri/Trainer, 2021 – sekarang
  2. Sinergi Karya Citra, Pendiri/Direktur, 2020 – sekarang
  3. English Solution Center, Pendiri/Direktur, 2000 – sekarang
  4. Pengasuh Pesantren Ali Hasyim, Pendiri/Pengasuh 2020 – sekarang
  5. Direktur Damalus Academy, Pendiri/Direktur, 2018 – sekarang

Pengalaman Organisasi

  1. Ketua Jaringan Nahdliyin
  2. Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI NU) Sumatera Selatan
  3. Pengurus PERGUNU (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) Sumatera Selatan
  4. Pengurus Pagar Nusa Sumatera Selatan
  5. Anggota Banser NU Sumatera Selatan
  6. Pengurus Badan Pengusaha Muda Pancasila (BP3) Sumsel
  7. Sekjen, Penggiat Kader Pertahanan Negara (PKBN) Sumsel

Pengalaman Profesional

  1. Guru Bahasa Inggris, TOEFL, TOEIC, IELTS, PTE Academic
  2. Penerjemah lepas
  3. Praktisi Media Online
  4. Konsultan IT, Web, Sosial dan Pemasaran Digital
  5. Konsultan Usaha Kecil Menengah (UKM/UMKM)

Pengalaman Pekerjaan

  1. Guru Bahasa Inggris di LIA Jakarta, 1990 – 2000
  2. Staf Hubungan Internasional di PT FOT, Jakarta, 2007 – 2008
  3. Penerjemah Bahasa Inggris di Majalah MODAL Syariah, Jakarta, 2003
  4. Penerjemah Bahasa Inggris di USADI Sistemindo Intermatika, Jakarta, 2006
  5. Surveyor di RITTER Dinamika Consulting, Jakarta, 2007
  6. Reporter & Penyiar Radio di UNISI FM Yogyakarta, 1994 – 1996
  7. Staf Administrasi di PT Jupiter Indah, 1988 – 1991

Minat: Membaca, Menulis, Traveling

(al/red)

Berita Terkait

Ops Krakatau, Polres Lampung Tegah Hadiahi Minyak Goreng Kepada Pengendara

Aspirasi Lampung