24.1 C
Bandar Lampung
28 September, 2021
Pendidikan Sosbud Teknologi

Guru Besar UPI: Kurikulum Saat ini Harus Diubah untuk Mampu Bersaing di Era 4.0

Pakar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Ace Suryadi, memberi saran kepada Mendikbud Nadiem Makarim yang mendapat perintah Presiden Jokowi untuk merombak kurikulum secara besar-besaran.

Menurut Ace, kurikulum yang sekarang berlaku memang sudah waktunya diganti. Alasannya karena kurikulum ini lebih berbasis pada konten pelajaran teori ketimbang aplikasi atau terapan.

“Saya kira sudah waktunya sekarang,” kata guru besar dari Fakultas Ilmu Pendidikan UPI Bandung itu, Rabu, 6 November 2019.

Menurut Ace kurikulum sekolah sekarang ini lebih banyak memuat teori ilmu. Anak-anak diajari ilmu pengetahuan sejak kecil. “Padahal mereka tidak bakal jadi ilmuwan semua, paling yang jadi ilmuwan nggak sampai satu persen,” ujarnya.

Sebagian besar siswa akan terjun untuk bergaul dan bekerja di masyarakat. Karena itu perubahan kurikulum SD, SMP, SMA sebagai pendidikan dasar harus jadi prioritas. “Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan Mendikbud,” kata Ace.

Kurikulum sekolah menurutnya tidak perlu diorganisir dalam mata pelajaran seperti sekarang. Ace mengatakan perlu kemasan baru kurikulum dalam bentuk program-program pendidikan.

Program itu dibagi empat:

Pertama, program pendidikan literasi agar siswa berkemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning skills). “Karena itu adalah tema sentral industri 4.0, setiap orang dituntut memilikinya.”

Program berkomposisi sekitar 25 persen dari kurilukum sekolah itu harus memuat kemampuan membaca agar siswa memahami isi bacaan dengan cepat dan tepat.’ Kemudian kemampuan menulis untuk mengungkapkan gagasan dan pendapat secara jelas, tegas, dan santun.

Lalu kemampuan menyimak, serta mampu menuturkan secara lisan gagasan dan pendapat yang mudah difahami secara santun. “Satu lagi adalah matematika dasar, yaitu memahami logika angka, ruang dan bidang atau yang disebut numerasi.”

Program kedua yaitu pengetahuan dasar (basic learning content) yang kini dipelajari di SD hingga SMA. “Nantinya pendidikan pengetahuan dasar perlu disampaikan secara tematik,” kata Ace. Tujuannya untuk mengenalkan dan menganalisis tema atau isu sosial di lingkungan sekitarnya. Porsi bagian program kurikulum ini cukup 25 persen.

Ketiga, program kurikulum yang berporsi 40 persen yaitu kecakapan terpakai (applied skills) atau sebelumnya disebut kecakapan hidup (life skills). Materinya berbasis kebutuhan daerah sehingga perlu dirancang kurikulumnya oleh pemerintah daerah. Sekolah juga perlu memfasilitasi minat siswa seperti berbisnis, olahraga, seni, teknologi informatika, dan menunya harus disiapkan.

Keempat, program kurikulum berporsi 10 persen untuk pendidikan perekat NKRI, misalnya pendidikan karakter bangsa, agama, PPKN, sejarah nasional, Bahasa Indonesia.

Ace yakin Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim bisa mengganti kurikulum seperti itu. “Karena beliau punya wewenang, kekuasaan dan pengalaman di bidang digital,” kata dia. Adapun aspek teknologi digital menurutnya adalah alat bukan isi dari kurikulum. Teknologi itu dapat diaplikasikan untuk pembelajaran semua isi program kurikulum.

Sumber: Tempo.com

Berita Terkait

Inilah Isi Pidato Mas Mendikbud Nadiem Makarim di Hari Guru Nasional

AspirasiLampung

Kyai Ma’ruf Jadi Wakil Presiden, Sarung Ngetrend di Lingkungan Istana

AspirasiLampung

Digelar Pada 9-10 November 2019, Festival Way Kambas Mentargetkan Kunjungan 700 Ribu Wisatawan

AspirasiLampung