30.2 C
Bandar Lampung
4 August, 2021
Ekonomi Wisata

Gedung Pencakar Langit Mulai Hiasi Kota Metropolis Bandar Lampung

Kota Bandar Lampung, ibukota Provinsi Lampung, dalam beberapa tahun terakhir mulai dihiasi gedung-gedung menjulang tinggi. Sebut saja Novotel Lampung, Swiss-Belhotel Lampung, Hotel Horison Lampung, Hotel Whiz Prime Lampung, dan Batiqa Hotel.

Terbaru, dan saat ini sedang dibangun gedung pencakar langit di bilangan Jalan Raden Intan, Bandar Lampung yaitu Grand Mercure Lampung dan sebuah rumah sakit swasta di kawasan Teluk Betung.

Maraknya sejumlah gedung tinggi di Bandar Lampung ditanggapi berbagai kalangan. Founder SkyscraperCity (SSCI) Lampung Andreas Evando mengatakan, pihaknya sudah lama memantau pembangunan gedung tinggi sejak 2014.

Menurutnya, Lampung sudah dipantau sejak lama yang menunjukkan gedung di sini perlahan mulai-mulai muncul yang didominasi hotel.

Bangunan tinggi di Lampung dipelopori Hotel Novotel setinggi 15 lantai. Kemudian dilanjut tahun 2014 mulai muncul seperti Hotel Horison, Whiz Prime, dan Batiqa Hotel. Sementara yang lainnya ketinggiannya tanggung hanya 10 lantai seperti Swiss-Belhotel.

“Kalau kategori gedung tinggi minimal 12 lantai berdasarkan point emporist. Ini buat gedung apa saja misal kantor, rumah sakit dan lainnya,” paparnya.

Sementara gedung pencakar langit skyscraper kategorinya tinggi sekitar 200-300 meter lebih.

“Untuk di Lampung yang benar-benar muncul skyscrapers yaitu Hotel Grand Marcure 36 lantai dengan tinggi hampir 200 meter,” terangnya.

Menariknya, Hotel Grand Marcure bakal menjadi gedung tertinggi di Sumatera. Tapi nanti ada pesaingnya di Batam, yakni gedung setinggi 70 atau 100 lantai.

“Itu yang pertama. Tapi infonya ada lagi mau launching yang di Teluk (Betung) 25 lantai sebelah proyek rumah sakit milik Bumi Waras,” sambungnya.

“Di Batam satu kawasan seperti proyek pada umumnya yaitu ada hotel, mal, dan lainnya seperti di Jakarta. Untuk Lampung baru di MBK ada mal dan hotelnya,” urainya.

Penentu gedung dikategorikan sebagai pencakar langit memang yang paling utama melihat pada ketinggiannya yaitu jumlah lantai.

Sekretaris BPD Hipmi Lampung Adhitya Saputra mengatakan, perkembangan kota kian modern dengan hadirnya gedung tinggi, pasti ada imbas positifnya bagi perekonomian. Ia mencontohkan, terbukanya lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya dan pemerataan sektor ekonomi.

Mahasiswa Jurusan Teknik Geosistem Itera Saza Yunica mengatakan, gedung tinggi idealnya diimbangi kebermanfaatannya untuk masyarakat. Selain itu, harus ada pemerataan pembangunan hingga perekonomian setiap daerah itu sama dan jangan ada tersentralistik pembangunan.

“Harus ada pemerataan dan jangan sampai hanya satu wilayah yang maju, tapi wilayah lainnya tidak diperhatikan. Harus ada asas kebermanfaatannya dalam pemerataan pembangunan tersebut yang ber-impact manfaatnya bagi masyarakat,” ujar dia.

Sri, warga Sukarame, Bandar Lampung, menjelaskan, banyaknya gedung tinggi membuat Kota Tapis Berseri sudah menuju kota megapolitan. Di sisi lain, pembangunan harus tetap memerhatikan aspek lingkungan seperti ada pengolahan limbah khusus dari pihak pengelola gedung.

Solusi Keterbatasan Lahan

Dosen Fakultas Teknik UBL Fritz Ahmad Nuzir menuturkan, banyaknya gedung tinggi di Bandar Lampung menandakan adanya pertumbuhan perekonomian di suatu daerah. Gedung itu memiliki banyak fungsi dan tentunya sangat sesuai dengan tuntutan pola hidup masyarakat kota modern yang serba cepat dan praktis.

Mengacu perkembangan kota, bangunan dengan multifungsi ini menjadi salah satu komponen utama dalam suatu kawasan kota yang terpadu (compact city).

“Kondisi itu karena kawasan kota yang sudah padat atau daerah baru yang memang didesain dengan konsep compact city,” kata dia.

Adanya gedung tinggi belasan hingga puluhan lantai merupakan wujud pembangunan vertikal. Biasanya menjadi solusi dari keterbatasan lahan di wilayah yang padat penduduk.

Untuk itu, sebagai dasar dari perencanaan gedung tinggi tersebut tentunya harus mengacu pada zonasi berdasar tingkat kepadatan. Aturan lainnya terkait Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB).

“Jika masih banyak ketersediaan lahan, maka harus ada alasan lain yang kuat seperti misalnya lahan dasar yang tersisa dibuat sebagai ruang terbuka hijau (RTH),” imbuhnya.

Selain itu, juga harus diperhatikan yakni dampak visual dari keberadaan bangunan vertikal tersebut. Biasanya di kawasan-kawasan bersejarah atau daerah kota yang memiliki ciri khas bangunan asli yang unik, keberadaan bangunan tinggi akan mengganggu keseimbangan visual.

Citra kawasan sudah pasti akan berubah status dengan adanya bangunan tinggi tersebut. Hal ini biasanya juga menjadi perhatian khusus bagi para perancang kota (urban designer) dan juga para pemerhati konservasi sejarah dan budaya. (AL/tribun)

Berita Terkait

Info Tarif Bagasi Maskapai Penerbangan Indonesia Rute Domestik

AspirasiLampung

Memahami Arti Kode pada Huruf-huruf yang Tertera pada Boarding Pass

AspirasiLampung

CNTraveler Nobatkan ndonesia sebagai Tujuan Wisata No. 1 di Dunia

AspirasiLampung